Buruknya pengelolaan sistem perkertaapian PT KAI

Sudah 3 bulan saya jadi pelanggan setia KRL commuter line (kereta listrik full ac) yang dioperasikan PT KAI. Dibandingkan kereta ekonomi, walaupun harga karcisnya lebih mahal, namun krl commuter line lebih ‘manusiawi’ dibanding kereta ekonomi yang penuh sesak, bahkan penumpang di atap kereta pun bejubel.

Jujur selama keberlangsungan ‘hubungan’ saya dengan PT KAI, saya berulang kali kecewa dibuatnya. Mulai dari jadwal yang tidak tepat, seringnya terjadi gangguan, daya angkut yang minim sehingga terjadi penumpukan penumpang, dll..

Saya heran, sebuah BUMN monopoli di bidang perkereta-apian yang sudah berjalan puluhan tahun ini, masih saja tidak bisa menyelesaikan masalah dasar tersebut. Atau justru karena monopoli jadi mereka manja?

Menurut saya ada beberapa krusial hal yang perlu diperbaiki PT KAI.

Pertama dari segi daya angkut.
Kedua dari ketepatan jadwal kereta.
Ketiga dari service excellence (tidak ada kereta mogok)
Keempat dari segi mental karyawan dan budaya perusahaan (khususnya sebagai BUMN)

Belakangan saya perhatikan manajemen mulai tambah pinter.
Pengecekan karcis yang tadinya dilakukan oleh petugas di dalam kereta, sekarang lebih banyak dilakukan pada pintu masuk dan keluar stasiun, jadi pegawai tidak perlu mondar mandir di dalam kereta untuk mengecek karcis.

Memang sistem ini lebih efisien namun ada satu kelemahannya : adanya potensi kebocoran pembeli karcis ekonomi yang masuk ke kereta commuter line.

Yah, saya hanya berharap ke depannya manajemen PT KAI bisa lebih baik lagi dan memberikan pelayanan yang prima bagi para pelanggannya.

*Ditulis oleh pelanggan yang kecewa dari dalam kereta commuter line yang sangat penuh sesak, 11 April 2012 pukul 18.30

Advertisements

Sistem Transportasi Terpusat

Selagi bengong kena macet di kereta dan di angkot kayak sekarang, gw kepikiran kenapa trafik tranportasi jakarta diarahkan untuk memusat.

Trafik kendaraan seperti mobil, motor busway di jalur utama sudirman thamrin semuanya terpusat ke semanggi.
Kereta terpusat ke manggarai. Pembangunan terpusat ke jakarta.
Jalur angkot dari stasiun kranji berpusat ke pasar kranji.

Well, gw rasa sepertinya desain sistem transport ini kurang mengadopsi teori traffic management.
Hasilnya congestion dimana-mana.
Penumpukan manusia di satu titik.

Even worse, gimana kalo pusat transportasi itu terkena gangguan?
Banjir di semanggi, stasiun manggarai relnya patah..
Bisa-bisa lalu lintas down.

Yah sekedar ungkapan hati aja. Semoga ke depannya tata kota jakarta semakin baik dan public transport bisa dibenahi 🙂